This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label informasi-keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label informasi-keluarga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juni 2011

PERKEMBANNA ORGAN REPRODUKSI DARI BALITA SAMPAI DEWASSA


Perkembangan Seksual Anak

Anak memiliki perasaan seksual sejak lahir, bahkan sebelum kelahiran. Pria dapat mengalami ereksi saat masih di dalam rahim dan beberapa anak laki – laki lahir dengan ereksi.
Bayi laki – laki mengalami ereksi penis; bayi perempuan mangalami lubrikasi vagina. Bayi laki – laki mengalami ereksi dan baik bayi laki – laki maupun perempuan sama – sama memiliki perasaan senang jika ada sentuhan pada organ genitalia mereka.

Menurut freud (1856 – 1939) fase – fase perkembangan individu pada perkembangan psikoseksual di dorong oleh energi psikis yang disebut libido. Libido merupakan energi psikis yang bersifat seksual (diartikan secara luas sebagai dorangan kehidupan) dan sudah ada sejak bayi. Libibo ada sejak lahir tanpa harus dipelajari lagi. Individu yang normal mempunyai libido sejak ia lahir. Sekalipun orang yang mempunyai keterbelakangan mental (mental retardation).

Setiap perkembangan psikoseksual, diawali dengan dorongan – dorongan (drive) pada daerah-daerah tubuh atau organ – organ tertentu. Misalnya : mulut, anus, daerah kelamin dan kematangan alat – alat reproduksi.
Psikoseksual tahapan perkembangan dimana puncak kenikmatan seksual atau sensual berpindah dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lainnya, dari muluat ke anus lalu ke genital. Pada tiap tahapan, perilaku merupakan sumber utama pemuasaan (frustasi ) berubah dari disuapi, eliminasi (penghilangan atau keluar) dan akhirnya aktivitas seksual.

Freud menyatakan bahwa jika anak – anak menerima terlalu banyak atau terlalu sedikit kepuasan dalam tahap – tahap pertama dari hidup, maka akan terkena fixation (fiksasi) – keterhentian dalam perkembangan yang dapat muncul pada kepribadian seseorang setelah ia dewasa. Misalnya, bayi yang keinginan untuk makan tidak tercapai pada tahap oral, mungkin akan tumbuh sebagai seorang penggigit kuku, perokok atau mengembangkan teori karakter sengit dan kritis.

• Fase yang pertama ialah tahap oral (0 – 1 tahun), sumber kenikmatan dan kepuasaan ada pada mulut (menghisap dan menelan). Objek sosial terdekat adalah ibu, terutama pada saat menyusui. Bayi biasanya belum mengeksplor organ genitalianya sampai usianya 1 tahunan karena organ ini memang lebih sulit terlihat dibandingkan dengan anggota tubuh lainnya seperti tangan dan kaki. Bayi sering menyentuh organ genitalnya karena menimbulkan rasa enak atau menimbulkan rasa nyaman jika mereka sedang cemas dan marah.

• Fase yang kedua adalah anal (1 – 3 tahun). Pada tahap ini puncak kenikmatan terletak di daerah anus terutama saat buang air besar. Bayi sudah mulai memainkan genitalnya saat diganti celananya dan kadang mereka juga memainkan “ee” atau fecesnya saat dibersihkan. Hal ini wajar saja sebagai bagian dari rasa keingintahuan mereka. Seseorang yang dimasa ini mendapat toilet training yang terlalu keras mungkin akan terfiksasi pada tahap anal. Orang tersebut mungkin memiliki kepribadian “sembelit”, sangat obsesif dengan kebersihan dan terikat dengan jadwal dan rutinitas secara kaku.

• Fase ketiga adalah Falik (3-5 tahun). Menurut Freud, kunci dalam psikoseksual terjadi pada phallic stage di awal masa kanak-kanak. Anak memindahkan kepuasannya pada daerah kelamin. Pada anak laki-laki kedekatan pada ibunya menimbulkan gairah seksual yang disebut Oedipus kompleks, sedangkan pada anak perempuan kedekatan tersebut dinamakan electra kompleks. Pada fase ini, anak dalam usia prasekolah, dimana mereka sering belum “aware” terhadap tubuhnya dan masih belum terlalu mengerti malu dalam keadaan telanjang. Anak usia prasekolah tertarik untuk melihat tubuhnya sendiri dan tubuh teman-temannya. Mereka sering bermain peran dokter – perawat sehingga mereka bisa saling melihat dan menyentuh satu sama lain. Mereka mulai lebih sosial dan dapat meniru perilaku sosial dan seksual dewasa, seperti berpegangan tangan dan berciuman. Anak-anak usia ini menyadari perkawinan dan memahami hidup bersama, berdasarkan pengalaman keluarga mereka, dan mungkin memainkan peran tentang menikah atau memiliki pasangan saat mereka bermain rumah – rumahan serta mereka tertarik pada bagian – bagian tubuh orang tuanya dan ingin menyentuhnya jika mereka kebetulan melihatnya di kamar atau di kamar mandi. Mereka juga mulai tertarik terhadap konsep dari mana bayi berasal dan bagaimana bayi keluar dari perut ibunya.

• Tahap laten (5-12 tahun). Dorongan seksual yang tertekan pada tahap ini timbul kembali secara sosial, yang disebutkan Freud bahwa hubungan heterogen seksual dengan orang lain dari luar keluarga asal. Di tahun – tahun pertama sekolah dasar anak biasanya mengetahui bahwa memperhatikan tubuh orang lain dan masturbasi merupakan kegiatan yang dilakukan orang dewasa secara pribadi. Di umur ini anak masih bermain peran yang melibatkan perbedaan jenis kelamin karena rasa keingintahuannya. Anak mulai mendengar dan memperhatikan kata – kata yang “berbau” seks, kadang mereka menggunakan istilah – istilah tertentu yang mereka dapatkan dari teman-temannya. Mereka masih merasa tertarik pada proses kehamilan dan persalinan. Anak mulai memilih teman sejenis sebagai teman dekatnya. Anak sudah malu jika tidak berpakaian dengan baik di depan orang lain dan juga di depan orang tuanya. Mereka mulai mengangkat topik seks dalam obrolan atau gurauan dengan teman – temannya. Permainan seksual yang sering diperankan adalah permainan bermain saling memperolok atau berpura-pura mengenai perkawinan atau bermain peran “dokter – pasien / perawat”.
• Tahap genital (12 tahun ke atas). Alat-alat reproduksi sudah mulai matang. Artinya, alat-alat reproduksi tersebut sudah berfungsi sesuai dengan aturanya. Masturbasi meningkat selama tahun-tahun pertama. Remaja laki – laki dan perempuan biasanya tidak memiliki pengalaman seksual banyak, tetapi mereka sering memiliki banyak pertanyaan. Mereka biasanya telah mendengar tentang hubungan seks, petting, seks oral dan seks anal, homoseksualitas, pemerkosaan dan incest serta mereka ingin tahu lebih banyak tentang semua hal ini. Ide untuk benar – benar melakukan hubungan seksual bagaimanapun adalah yang paling menyenangkan untuk anak laki-laki dan perempuan remaja. Anak laki-laki dan perempuan cenderung bermain dengan teman – teman dari jenis kelamin yang sama dan cenderung untuk mengeksplorasi seksualitas mereka. Masturbasi bersama-sama dan melihat atau membelai alat kelamin masing – masing adalah umum di antara anak laki-laki dan perempuan remaja.

Remaja (12-18 tahun )
Karakteristik seks mulai berkembang
Mulai terjadi menarche (wanita)
Mengembangkan hubungan yang menyenangkan
Dapat terjadi aktivitas seksual, misalnya masturbasi
Mengidentifikasi orientasi seksual (homoseks / heteroseks)
Mencari perawatan kesehatan tanpa ditemani orang tua

Beberapa kelompok kencan terjadi pada usia ini. Pada usia 12 atau 13, beberapa remaja muda mungkin berpasang – pasangan dan mulai berkencan dan / atau membuat janji diluar. Perempuan muda biasanya lebih tua ketika mereka mulai melakukan hubungan seksual secara sukarela. Namun, remaja muda banyak mempraktekkan perilaku seksual selain hubungan intim seperti membelai untuk orgasme dan hubungan oral.

Pada sekitar usia 50, wanita mengalami menopause, yang mempengaruhi seksualitas mereka dan ovarium mereka tidak lagi melepaskan telur, tubuh mereka tidak lagi memproduksi estrogen. Mereka mungkin mengalami beberapa perubahan fisik, dinding vagina menjadi lebih tipis dan hubungan seksual mungkin menyakitkan karena pelumasan vagina kurang dan pintu masuk ke vagina menjadi lebih kecil. Banyak wanita menggunakan terapi estrogen pengganti untuk meringankan efek samping fisik dan emosional menopause. Penggunaan pelumas vagina juga bisa membuat hubungan intim lebih mudah. Kebanyakan wanita dapat melakukan hubungan seksual menyenangkan dan mengalami orgasme untuk seluruh hidup mereka.

Pria dewasa juga mengalami beberapa perubahan dalam seksualitas mereka, tetapi tidak pada waktu yang diprediksi seperti pada wanita menopause. Testis memproduksi testosteron lambat setelah usia 25 tahun atau lebih. Ereksi mungkin terjadi lebih lambat ketika produksi testosteron melambat. Pria juga menjadi kurang mampu memiliki ereksi lagi setelah orgasme dan mungkin memakan waktu hingga 24 jam untuk mencapai dan mempertahankan ereksi lain. Jumlah semen dilepaskan saat ejakulasi juga menurun, tetapi pria mampu menjadi ayah dari seorang bayi bahkan ketika mereka berada di mereka 80 dan 90-an.
Meskipun pria dan wanita dewasa melalui beberapa perubahan seksual dengan bertambahnya usia mereka, mereka tidak kehilangan keinginan atau kemampuan mereka untuk ekspresi seksual. Bahkan diantara yang sangat tua, kebutuhan akan sentuhan dan keintiman tetap, meskipun keinginan dan kemampuan untuk melakukan hubungan seksual bisa berkurang.

Rabu, 15 Juni 2011

PSIKOLOGI PADA ANAK


Mengasuh, membesarkan dan mendidik anak merupakan satu tugas mulia yang tidak lepas dari berbagai halangan dan tantangan. Telah banyak usaha yang dilakukan orangtua maupun pendidik untuk mencari dan membekali diri dengan pengetahuan – pengetahuan yang berkaitan dengan perkembangan anak. Lebih – lebih bila pada suatu saat dihadapkan pada masalah yang menimpa diri anak – anak ini, ada kecenderungan untuk mempertanyakan hal – hal sebagai berikut :

Apa yang sebenarnya terjadi pada anak ini?
Mengapa ia bisa berbuat demikian
Mengapa masalah ini hanya menimpa si bungsu atau si sulung?
Siapa yang bersalah?
Dan sebagainya.

Dengan mengenal Psikologi Perkembangan, khususnya tentang perkembangan anak, diharapkan dapat memberi jawab atau setidak – tidaknya petunjuk atas pertanyaan – pertanyaan tersebut di atas.

Di dalam psikologi perkembangan banyak dibicarakan bahwa dasar kepribadian seseorang terbentuk pada masa anak – anak. Proses – proses perkembangan yang terjadi dalam diri seorang anak ditambah dengan apa yang dialami dan diterima selama masa anak – anaknya secara sedikit demi sedikit memungkinkan ia tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa.

Adalah harapan dan cita – cita para orangtua untuk dapat memperkembangkan anak semaksimal mungkin agar anak tersebut mampu dan berhasil dalam memenuhi tugas – tugas perkembangan yang berlaku umum untuk setiap umur atau fase perkembangan yang akan atau sedang dilalui seorang anak.

Orangtua akan senang misalnya mempunyai anak umur 2 tahun sudah lincah berjalan, berlari serta berbicara, pada umur 4 tahun sudah berhenti mengompol, pada umur 11 – 13 tahun dapat melampaui jenjang pendidikan SD dengan tanpa kesulitan dan mereka telah mengetahui peran jenis kelaminnya, pada masa remaja dapat menerapkan nilai – nilai moral dengan baik, demikian untuk selanjutnya secara bertahap mereka mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.

Sebelum perkembangan anak ini dijelaskan lebih lanjut, ada baiknya dikemukakan dahulu beberapa prinsip perkembangan yang mendasari perkembangan setiap anak.

Beberapa prinsip perkembangan
1. Perkembangan tidak terbatas dalam arti tumbuh menjadi besar tetapi juga mencakup rangkaian perubahan yang bersifat progresif, teratur, koheren dan berkesinambungan. Jadi antara satu tahap perkembangan dengan tahap perkembangan berikutnya tidak terlepas, berdiri sendirin- sendiri.

2. Perkembangan dimulai dari respons – respons yang sifatnya umum menuju ke yang khusus. Contohnya, seorang bayi mula – mula akan bereaksi tersenyum bila melihat setiap wajah manusia. Dengan bertambahnya usia bayi, is mulai bisa membedakan wajah – wajah tertentu.

3. Manusia merupakan totalitas (kesatuan), sehingga akan ditemui kaitan erat antara perkembangan aspek fisik,motorik, mental, emosi dan sosial. Perhatian yang berlebihan atas satu segi akan mempengaruhi segi lain. Contohnya, orangtua yang terlalu mengutamakan segi mental (misalnya kecerdasan) menyebabkan anak dibesarkan dalam suasana yang penuh dengan aturan – aturan, tuntutan – tuntutan atau kegiatan – kegiatan yang semuanya ditujukan untuk menunjang keberhasilan di bidang intelektual.

Anak mungkin akan berhasil menjadi “bintang pelajar“, tetapi apakah pernah ditelaah bagaimana kondisi fisiknya, bagaimana kehidupan emosi dan sosialnya? Apakah anak ini lincah, ceria dan bahagia seperti anak – anak lain seusianya?

4. Setiap orang akan mengalami tahapan perkembangan yang berlangsung secara berantai. Meskipun tidak ada garis pemisah yang jelas antara satu fase dengan fase Iainnya, tahapan perkembangan ini sifatnya universal. Dalam perkembangan bicara misalnya, sebelum seorang anak fasih berkata – kata terlebih dahulu ia akan mengoceh.

5. Setiap fase perkembangan memiliki ciri dan sifat yang khas sehingga ada tingkah laku yang dianggap sebagai tingkah laku buruk atau kurang sesuai yang sebenarnya merupakan tingkah laku yang masih wajar untuk fase tertentu itu.

Setelah seorang anak melewati masa bayi di mana ia mula – mula tidak berdaya, dengan dikuasai dan diperolehnya kemampuan baru menyebabkan bayi ini menjadi lebih ingin mandiri. la tidak lagi mau digendong dan diberi dot seperti pada waktu usia dini tetapi berusaha lari ke sana ke mari dan menolak makanan yang tidak disukainya.

Para orangtua sering mengomentari perubahan kelakuan ini sebagai “dulu ia manis, patuh, sekarang jadi bandel dan keras kepala”. Para ahli mengemukakan bahwa antara masa tenang atau equilibrium (di mana anak mudah diatur, penurut) dan masa disequilibrium atau tidak tenang (di mana anak sukar diatur, mudah tersinggung, gelisah) pada seorang anak akan terjadi silih berganti sebagaimana slur dari sebuah spiral yang bergerak ke atas. Namun justru adanya perubahan – perubahan itulah merupakan ciri terjadinya perkembangan.

6. Karena pola perkembangan mengikuti pola yang pasti, maka perkembangan seseorang dapat diperkirakan. Seorang anak yang dilahirkan dengan faktor bawaan yang “kurang” dari anak lain, dalam perkembangan selanjutnya akan menampakkan suatu kecenderungan perkembangan yang relatif lebih lambat dari anak lain seusianya.

7. Perkembangan terjadi karena faktor kematangan dan belajar dan perkembangan dipengaruhi oleh faktor – faktor dalam (bawaan) dan faktor luar (lingkungan, pengalaman, pengasuhan). Jadi sekalipun semua orang mengikuti pola perkembangan yang kurang lebih sama, kecepatan perkembangan pada sesuatu aspek pada tiap orang berbeda – beda misalnya anak – anak dengan umur yang sama tidak selalu mencapai titik atau tingkat perkembangan fisik, mental, sosial, emosi yang sama.

Variasi dalam perkembangan ini banyak hubungannya dengan faktor kematangan, belajar atau pengalaman, bawaan dan faktor lingkungan.

8. Setiap individu itu berbeda, dengan lain perkataan setiap orang itu khas, tidak akan ada dua orang yang tepat sama meskipun berasal dari orangtua yang sama.

PERLUNYA FAKSIN BAGI ANAK-ANAK


Jangan lupa untuk mengimunisasi bayi kecil Anda tepat pada waktunya! Imunisasi adalah memasukkan mikroorganisme penyebab penyakit yang sudah dilemahkan atau dimatikan (dalam bentuk vaksin) atau dengan bentuk racun yang sudah dilemahkan dengan panas atau bahan kimia (disebut toksoid), ke dalam tubuh bayi, yang akan membuat antibodi yang sama dengan antibodi yang akan diproduksi jika is sungguh terkena penyakit tersebut.

Jadi, bayi “dipersenjatai” dengan sistem imun atau kekebalan khusus. Ditemukan oleh Edward Jenner, seorang dokter skotlandia, imunisasi telah menyelamatkan ribuan nyawa bayi setiap tahunnya.

Imunisasi Wajib
Imunisasi wajib adalah imunisasi yang harus diberikan pada bayi. Dengan imunisasi wajib, maka bayi akan terlindung terhadap penyakit yang kerap menyerang. Di antara berbagai jenis
imunisasi, yang termasuk imunisasi wajib adalah imunisasi BCG, DPT, Polio, Campak dan Hepatitis B.

1. Vaksin BCG
a. Penjelasan
Vaksin BCG mengandung jenis kuman TBC yang masih hidup tapi sudah dilemahkan. Pemberian imunisasi ini bertujuan untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC).

b. Cara imunisasi
Imunisasi BCG dapat diberikan pada bayi baru lahir sampai berumur 12 bulan. Tetapi, sebaiknya pada umur 0 – 2 bulan. Imunisasi ini cukup diberikan satu kali saja. Pada anak berumur Iebih dari 2 – 3 bulan, dianjurkan untuk melakukan uji mantoux / PPD sebelum imunisasi BCG.

Gunanya untuk mengetahui apakah ia telah terjangkit penyakit TBC. Seandainya uji mantoux positif, maka anak tersebut tidak mendapat imunisasi BCG lagi.

Bila pemberian imunisasi itu berhasil, setelah 1 – 2 bulan di tempat suntikan akan terdapat suatu benjolan kecil. Tempat suntikan itu biasanya berbekas. Dan kadang – kadang benjolan itu akan bernanah, tetapi akan sembuh sendiri meskipun lambat.

c. Kekebalan
Imunisasi BCG tidak dapat menjamin 100% anak akan terhindar penyakit TBC. Tetapi, seandainya bayi yang telah diimunisasi BCG terjangkit TBC, maka ia hanya akan menderita penyakit TBC ringan.

d. Reaksi imunisasi
Setelah suntikan BCG, biasanya bayi tidak akan menderita demam. Bila ia demam setelah imunisasi BCG umumnya disebabkan oleh hal lain.

e. Efek samping
Pada imunisasi BCG, umumnya jarang dijumpai efek samping. Memang, kadang terjadi pembengkakan kelenjar getah bening setempat yang terbatas, tapi biasanya sembuh dengan sendirinya walaupun lambat.

Bila suntikan BCG dilakukan di lengan atas, pembengkakan kelenjar terjadi di ketiak atau di leher bagian bawah. Suntikan di paha dapat menimbulkan pembengkakkan di kelenjar selangkangan.

f. Indikasi kontra
Tidak ada larangan untuk melakukan imunisasi BCG kecuali pada anak berpenyakit TBC atau menunjukkan uji mantoux positif.

2. Vaksin Hepatitis B
a. Penjelasan
Vaksinasi dimaksudkan untuk mendapat kekebalan aktif terhadap penyakit hepatitis B. Vaksin tersebut bagian dari virus hepatitis B yang dinamakan HBs Ag, yang dapat menimbulkan kekebalan tapi tidak menimbulkan penyakit. HBs Ag ini dapat diperoleh dari serum manusia atau dengan rekayasa genetik dengan bantuan sel ragi .

b. Cara imunisasi
Imunisasi aktif dilakukan dengan cara pemberian suntikan dasar sebanyak tiga kali dengan jarak waktu satu bulan antara suntikan satu dan dua, lima bulan antara suntikan dua dan tiga.

Imunisasi ulang diberikan setelah lima tahun pasca imunisasi dasar. Cara pemberian imunisasi dasar tersebut dapat berbeda, tergantung dari rekomendasi pabrik pembuat vaksin hepatitis B mana yang akan dipergunakan.

Misalnya imunisasi dasar vaksin hepatitis B buatan Pasteur, Perancis berbeda dengan jadwal vaksinasi vasksin buatan MSD, Amerika Serikat.
Khusus bayi yang lahir dari seorang ibu pengidap virus hepatitis B, harus diberikan imunisasi pasif dengan imunoglobulin anti hepatitis B dalam waktu sebelum berusia 24 jam.

Berikutnya bayi tersebut harus pula mendapat imunisasi aktif 24 jam setelah lahir, dengan penyuntikan vaksin hepatitis B dengan pemberian yang sama seperti biasa.

Mengingat daya tularnya yang tinggi dari ibu ke bayi, sebaiknya ibu hamil di Indonesia melakukan pemeriksaan darah untuk mendeteksi apakah is mengidap virus hepatitis B sehingga dapat dipersiapkan tindakan yang diperlukan menjelang kelahiran bayi.

c. Kekebalan
Daya proteksi vaksin hepatitis B cukup tinggi, yaitu berkisar antara 94 – 96% .

d. Reaksi imunisasi
Umumnya tidak didapatkan reaksi, walaupun sangat jarang tetapi pada beberapa keadaan dapat terjadi reaksi. Biasanya berupa nyeri pada tempat suntikan, yang kemudian disertai demam ringan atau pembengkakan. Reaksi ini akan menghilang dalam waktu dua hari.

e. Efek samping
Tidak dilaporkan adanya efek samping yang berarti. Kemungkinan terjangkit oleh penyakit AIDS akibat pemberian vaksin hepatitis B yang berasal dari plasma, merupakan berita yang terlalu dibesarbesarkan.

f. Indikasi kontra
Imunisasi tidak dapat diberikan kepada anak yang menderita sakit berat. Vaksinasi hepatitis B dapat diberikan pada ibu hamil dengan aman dan tidak akan membahayakan janin. Bahkan memberikan perlindungan kepada janin selama dalam kandungan ibu maupun kepada bayi selama beberapa bulan setelah lahir.

3. Vaksin DPT (Difteria, Pertusis, Tetanus)
a. Penjelasan
Vaksinasi DPT akan menimbulkan kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit Difteria, Pertusis (batuk rejan / batuk seratus hari), dan tetanus.

Di Indonesia vaksin terhadap ketiga penyakit tersebut dipasarkan dalam tiga kemasan, yaitu dalam bentuk kemasan tunggal bagi tetanus, dalam bentuk kombinasi DT (difteria dan tetanus), dan kombinasi DPT (difteria, pertusis, dan tetanus).

Vaksin difteria dibuat dari toksin / racun kuman difteria yang telah dilemahkan dinamakan toksoid. Biasanya diolah dan dikemas bersama – sama dengan vaksin tetanus dalam bentuk vaksin DT, atau dengan vaksin tetanus dan pertusis dalam bentuk vaksin DTP.

Vaksin tetanus yang digunakan untuk imunisasi aktif ialah toksoid tetanus atau toksin / racun kuman tetanus yang sudah dilemahkan kemudian dimurnikan. Ada tiga macam kemasan vaksin tetanus, yaitu bentuk kemasan tunggal dan kombinasi dengan vaksin difteria (vaksin DT) atau kombinasi dengan vaksin difteria dan pertusis (vaksin DTP).

Vaksin terhadap penyakit batuk rejan atau batuk seratus hari terbuat dari kuman Bordetella Pertussisyang telah dimatikan. Selanjutnya dikemas bersama vaksin difteria dan tetanus (vaksin DTP)

b. Cara imunisasi
Imunisasi dasar DPT diberikan tiga kali, sejak bayi berumur dua bulan dengan selang waktu antara dua penyuntikan minimal empat minggu. Imunisasi ulangan/booster yang pertama dilakukan pada usia 11/2 – 2 tahun atau satu tahun setelah suntikan imunisasi dasar ketiga.

Imunisasi ulang berikutnya dilakukan pada usia enam tahun atau di saat kelas 1 SD. Pada saat kelas 6 SD diberikan lagi imunisasi ulang dengan vaksin DT. Vaksin pertusis (batuk rejan) tidak dianjurkan pada anak yang berusia Iebih dari tujuh tahun karena reaksi yang timbul dapat lebih hebat selain itu juga perjalanan penyakit pertusis pada anak berumur lebih dari lima tahun tidak parah.

Pada masa mendatang telah dipikirkan untuk memberikan vaksin tetanus khusus untuk anak perempuan yang belum pernah mendapat imunisasi DPT, atau imunisasi DPT tidak lengkap, sebanyak dua kali lagi pada saat kelas dua dan kelas 3 SD tindakan ini diperkirakan
cukup untuk memberikan perlindungan seumur hidup terhadap penyakit tetanus sehingga bayi yang kaiak dikandung dapat terlindung dari penyakit tetanus neonatorum atau tetanus pada bayi baru lahir.

Di indonesia penyakit tetanus pada bayi baru lahir masih merupakan penyebab kematian yang kadang terjadi pada saat bayi baru lahir.
Imunisasi ulang sewaktu, diperlukan juga bila anak berhubungan dengan anak lain yang menderita difteria atau batuk rejan. Atau bila diduga luka pada anak akan terinfeksi tetanus.

Dalam hal imunisasi tidak perlu cemas seandainya anak mendapatkan suntikan ulang sebelum waktunya. Atau bila diduga luka pada anak akan terinfeksi tetanus, biasanya akan memberikan suntikan ulang. Lebih baik memberikan imunisasi berlebih daripada kurang.

c. Kekebalan
Daya proteksi atau daya lindung vaksin difteria cukup baik, yaitu sebesar 80 – 95% dan daya proteksi vaksin tetanus sangat baik, yaitu sebesar 90 – 95%. Sedangkan daya proteksi vaksin pertusis masih rendah, yaitu 50 – 60%.

Oleh karena itu anak yang telah mendapat imunisasi pertusis masih dapat terjangkit penyakit batuk rejan, tetapi dalam bentuk yang lebih ringan.

d. Reaksi imunisasi
Reaksi yang mungkin terjadi biasanya demam, pembengkakan dan rasa nyeri di tempat suntikan selama satu – dua hari.

e. Efek samping
Kadang – kadang timbul reaksi akibat efek samping yang berat, seperti demam tinggi atau kejang, yang disebabkan oleh unsur pertusisnya.

f. Kontra indikasi
Imunisasi DPT tidak boleh diberikan pada anak yang sakit parah dan anak yang menderita penyakit kejang demam kompleks. Juga tidak boleh diberikan kepada anak dengan batuk yang diduga sedang menderita batuk rejan dalam tahap awal atau pada penyakit gangguan kekebalan (defisiensi umum).

Bila pada suntikan DPI pertama, ASI dapat diberikan seperti biasa karena ASI tidak berpengaruh terhadap vaksin polio. Imunisasi ulangan diberikan bersamaan dengan imunisasi ulang DPT.

Pemberian imunisasi ulang perlu tetap diberikan seandainya seorang anak pernah terjangkit polio. Karena mungkin saja anak yang menderita polio itu terjangkit virus polio tipe I. artinya, apabila penyakitnya telah sembuh ia hanya mempunyai kekebalan terhadap virus polio tipe I, tetapi tidak mempunyai kekebalan terhadap jenis virus polio tipe II dan III. Karena itu untuk mendapat kekebalan terhadap ketiga virus tersebut perlu diberikan imunisasi ulang polio.

c. Kekebalan
Daya proteksi vaksin polio sangat baik, yaitu sebesar 95 – 100%.

d. Reaksi imunisasi
Biasanya tidak ada, mungkin pada bayi akan mengalami berak – berak ringan

e. lndikasi kontra
Pada anak dengan diare berat atau yang sedang sakit parah imunisasi polio sebaiknya ditangguhkan demikian pula pada anak yang menderita gangguan kekebalan (defisiensi imun) tidak diberikan. Pada anak dengan penyakit batuk, pilek, demam atau diare ringan imunisasi polio bisa diberikan seperti biasanya.

5. Vaksin Campak (Morbili)
a. Penjelasan
Imunisasi diberikan untuk mendapat kekebalan terhadap penyakit campak secara aktif. Vaksin campak mengandung virus campak yang telah dilemahkan.

Vaksin campak yang beredar di Indonesia dapat diperoleh dalam bentuk kemasan kering tunggal atau dalam kemasan kering dikombinasi dengan vaksin gondong / bengok (mumps) dan rubella (campak jerman).

Di Amerika Serikat kemasan terakhir ini dikenal dengan nama vaksin MMR (Mesles-Mumps-Rubella vacine).

b. Cara imunisasi
Bayi baru lahir biasanya telah mendapat kekebalan pasif terhadap penyakit campak dalam kandungan dari ibunya. Makin lanjut umur bayi, makin berkurang kekebalan pasif tersebut. Waktu berumur enam bulan biasanya sebagian dari bayi tidak mempunyai kekebalan pasif lagi.

Dengan adanya kekebalan pasif ini sangat jarang seorang bayi menderita campak pada umur kurang dari enam bulan.

Menurut WHO (1973) imunisasi campak cukup satu kali suntikan setelah bayi berumur sembilan bulan. Lebih baik lagi setelah ia berumur Iebih dari satu tahun. Karena kekebalan yang diperoleh berlangsung seumur hidup, maka tidak diperlukan imunisasi ulang lagi.

Di Indonesia keadaannya berlainan. Kejadian campak masih tinggi dan sering dijumpai bayi menderita penyakit campak ketika masih berumur antara enam – sembilan bulan, jadi pada saat sebelum ketentuan batas umur sembilan bulan untuk mendapat vaksinasi campak seperti yang dianjurkan WHO.

Dengan demikian di Indonesia dianjurkan pemberian imunisasi campak pada bayi sebelum bayi berumur sembilan bulan, misalnya pada umur enam – sembilan bulan ketika kekebalan pasif yang diperoleh dari ibu mulai menghilang. Akan tetapi kemudian harus mendapat suntikan ulang setelah berumur lima belas bulan.

Perlukah vaksinasi campak diulang pada anak yang telah menderita campak karena infeksi alamiah? Sebenarnya bila anak tersebut telah benar – benar menderita sakit campak, maka vaksinasi campak tidak perlu diberikan lagi. Masalahnya adalah apakah anak tersebut benar menderita campak? Biasanya seorang ibu mendasarkan dugaan sakit anaknya itu hanya karena adanya demam yang disertai timbulnya bercak merah di kulit.

Gejala demam dengan bercak merah tidak hanya pada penyakit campak, tetapi dapat juga dijumpai pada penyakit lain, seperti penyakit “demam tiga hari”, demam berdarah, campak Jerman dan sebagainya.
menderita kurang gizi dalam derajat besar.

Pustaka
Merawat Bayi Tanpa Baby Sitter, Oleh Yunisa Pritono.

MASA PRE MELAHIRKAN MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN ANAK


Bertitik tolak dari pentingnya masa anak – anak sebagai masa bertumbuh kembangnya segenap aspek dan fungsi yang ada dalam diri seseorang, diantaranya perkembangan anak sejak masa pralahir, masa bayi dan masa pra sekolah serta masa anak sekolah (S.D). Perkembangan mana meliputi perkembangan dalam aspek motorik, mental, emosi dan sosial.

Berikut adalah perkembangan masa pra lahir yang mempengaruhi perkembangan seseorang, dimana masa ini merupakan masa yang berlangsung sejak konsepsi (bertemunya sel telur dan sperma) sampai anak lahir. Masa ini cukup penting karena pada saat inilah terbentuknya potensi – potensi manusia, potensi mana berpengaruh pada perkembangan selanjutnya.

Beberapa hal penting pada masa pralahir yang mempengaruhi perkembangan seseorang antara lain ialah :

1.Gizi
Beberapa penelitian pada hewan membuktikan bahwa adanya gizi buruk (malnutrisi) yang diderita induk hewan mengakibatkan jumlah sel otak dari janin lebih sedikit dari pada janin yang induknya tidak mengalami malnutrisi.

Pada manusia, kurangnya gizi pada ibu hamil mengakibatkan berat badan lahir bayi rendah (dan ini dikaitkan dengan angka kematian yang tinggi) dan perkembangan yang buruk.

2. Perangsangan
Janin telah menunjukkan reaksi terhadap berbagai perangsangan seperti perabaan, tekanan, perubahan suhu, suara, cahaya, perangsangan mana terjadi karena suntikan, penyinaran, (X-ray), rangsang kimia atau obat – obatan dan sebagainya.

Dikatakan bahwa denyut jantung ibu memberikan semacam “imprinting stimulus” di mana kelak pada masa bayi dan dewasa seseorang akan dapat merasa aman bila berada dalam pelukan atau bila ia merasakan detak jantung orang lain. Pada bayi yang lahir dari ibu – ibu dengan denyut jantung lambat dapat mudah tertidur, tidur lebih lama dan menangis tidak terlampau sering.

3. Emosi ibu
Penelitianm-mpenelitian mendalam berkaitan dengan bagaimana hubungan antara tekanan emosional yang diderita ibu dengan janin yang dikandungnya belum banyak dilakukan. Meskipun demikian ada beberapa jenis keadaan yang menimbulkan tekanan dan ketegangan perasaan pada ibu hamil.

Tekanan mana secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kandungannya. Keadaan tersebut misalnya masalah penyakit yang diderita si ibu maupun anggota keluarga dekat lainnya, keadaan lingkungan yang kurang nyaman (misalnya pengap, berisik, konflik antara anggota keluarga maupun di antara tetangga), tekanan – tekanan ekonomi dan sebagainya.

Pada ibu – ibu yang mengalami ketegangan terjadi gerakan bayi yang meningkat dan adanya unsur kecemasan dalam diri si ibu dapat mempengaruhi kelancaran dari proses melahirkan itu sendiri.

4. Penyakit
Dikenal beberapa penyakit yang diderita ibu yang membahayakan keadaan janin misalnya rubella, sakit kuning, syphilis, TBC, malaria dan lain – lain.

5. Usia ibu
Usia antara 20 – 30 dikatakan ideal untuk mengandung. Cukup banyak dijumpai bayi – bayi yang menderita keterbelakangan mental karena dilahirkan dan ibu yang telah lanjut usia.

Pustaka
Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Oleh Prof. DR. Singgih D Gunarsa dan Dra Yulia Singgih D Gunarsa, BPK.

PENTINGNYA MASA ANAK-ANAK


Dianut anggapan bahwa pola kepribadian dasar seseorang terbentuk pada tahun – tahun pertama kehidupan. Adanya pengalaman – pengalaman yang kurang menguntungkan yang menimpa diri seorang anak pada masa mudanya akan memudahkan timbulnya masalah gangguan penyesuaian diri di kelak kemudian hari.

Beberapa hal penting yang dapat mempengaruhi dasar kepribadian dari anak antara lain ialah :

a. Macam dan kwalitas hubungan antar manusia, terutama antara anak dengan ibu di mana melalui hubungan timbal balik ini terjadi juga perangsangan mental, proses sosialisasi dan pengembangan kehidupan emosi.

b. Makin kaya dan bermakna hubungan antar manusia tersebut, kemungkinan terjadinya pemiskinan (deprivasi) emosi yang akan berakibat buruk pada perkembangan anak akan dapat dihindari.

c. Metode pengasuhan yang diterapkan di rumah.
Biasanya suatu cara pengasuhan anak di rumah merefleksikan harapan – harapan dan sikap – sikap tertentu dari orangtua. Hal ini berpengaruh pada perkembangan anak; misalnya pengasuhan yang menitik beratkan pada sikap terlalu melindungi akan berakibat buruk bagi anak.

Demikian juga halnya dengan sikap – sikap orangtua yang menuntut kesempurnaan dalam segala hal dapat mengakibatkan anak tertekan atau justru akan memberontak.

Pustaka
Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Oleh Prof. DR. Singgih D Gunarsa dan Dra Yulia Singgih D Gunarsa, BPK.

SEJARAH TEORI ANAK


Sudah sejak berabad – abad yang lalu para ilmuwan dan para ahli pemikir memperhatikan seluk – beluk kehidupan anak, khususnya dari sudut perkembangannya, untuk mempengaruhi proses – proses perkembangan agar mencapai kesejahteraan hidup yang didambakan.

Anak harus tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa yang matang, yang sanggup dan mampu mengurus dirinya sendiri dan tidak senantiasa bergantung kepada orang lain atau bahkan menimbulkan masalah bagi keluarga, kelompok atau masyarakatnya.

Pada abad pertengahan, segi moral dan pendidikan keagamaan menjadi pusat perhatian dan menjadi tujuan umum dari pendidikan. Pandangan terhadap anak sebagai pribadi yang masih murni, jauh dari unsur – unsur yang mendorong anak ke perbuatan – perbuatan yang tergolong dosa dan tidak bermoral, banyak dipengaruhi oleh aktivitas – aktivitas keagamaan pada waktu itu.

Tokoh – tokoh agama dan cendekiawan – cendekiawan mengenai masalah kemanusiaan, banyak mendorong dan mempengaruhi orangtua untuk memperlakukan anak secara berbeda dengan orang dewasa.

Para filsuf, dokter, ahli pendidikan dan ahli Theologi memberikan pandangan mengenai anak dan latar belakang perkembangannya serta pengaruh – pengaruh keturunan dan lingkungan hidup terhadap kejiwaan anak.

Pada akhir abad ke 17, seorang filsuf Inggris bernama John Locke (1632 – 1704) mengemukakan, bahwa pengalaman dan
pendidikan merupakan faktor yang paling menentukan dalam perkembangan kepribadian anak. Isi kejiwaan anak ketika dilahirkan diibaratkan secarik kertas yang masih bersih. Jadi bagaimana goresan yang meninggalkan jejak pada kertas itu, menentukan bagaimana kertas tersebut jadinya, baik ujud maupun ragamnya.

John Locke memperkenalkan teori “tabula rasa” untuk mengungkapkan pentingnya pengaruh pengalaman dan lingkungan hidup terhadap perkembangan anak. Ketika dilahirkan seorang anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsang – rangsang yang berasal dari lingkungan.

Orangtua menjadi tokoh penting yang mengatur rangsang – rangsang dalam mengisi “secarik kertas” yang bersih ini. Pandangan John Locke ini dikenal dengan empirisme (= pengalaman) atau environtmentalisme (= lingkungan) menjadi titik mula dari timbulnya teori belajar di kemudian hari.

Seorang filsuf lain dari Perancis bernama Jean Jacques Rousseau (1712 — 1778) mengemukakan pandangan yang bertolak belakang dengan pandangan John Locke di atas. Rousseau berpendapat bahwa semua orang ketika dilahirkan mempunyai dasar – dasar moral yang baik. Rousseau mempergunakan istilah “noble savage” untuk menerangkan segi moral ini, yakni hal – hal mengenai baik atau buruk, benar atau salah, yang dimiliki sebagai potensi pada anak dari kelahirannya.

Pandangan Rousseau menjadi titik – tolak dari pandangan yang menitik – beratkan faktor dunia dalam atau faktor keturunan sebagai faktor yang penting terhadap isi kejiwaan dan gambaran kepribadian seseorang. Karakteristik yang diperlihatkan seseorang bersifat intrinsik dan karena itu pandangan Rousseau digolongkan pada pandangan yang beraliran nativisme.

Kedua pandangan yang saling berlawanan ini menjadi obyek pembahasan dari banyak tokoh dan tidak pernah sampai pada suatu penyelesaian yang memuaskan semua pihak. Akhirnya kita bersyukur ketika pada tahun 1958, seorang psikolog wanita terkenal dan pernah menjabat sebagai Presiden dari American Psychological Association, bernama Anne Anastasi, mengajukan makalah klasik yang dianggap bisa memuaskan semua pihak, sedikitnya meredakan pertentangan antara empirisme versus nativisme dalam mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang.

Anastasi mengemukakan bahwa pengaruh keturunan terhadap tingkah laku selalu terjadi secara tidak langsung. Tidak satu pun dari fungsi – fungsi psikis yang secara langsung diturunkan oleh orangtua kepada anak. Pengaruh keturunan selalu membutuhkan perantara atau perangsang yang terdapat dalam lingkungan, sekalipun kenyataannya memang ada semacam tingkatan yang lebih dan yang kurang. Hal ini dicontohkan dengan kenyataan – kenyataan sebagai berikut :

1. Latar belakang keturunan yang sama mungkin dihasilkan ciri – ciri kepribadian yang berbeda pada kondisi – kondisi lingkungan yang berbeda pula.

2. Latar belakang keturunan yang berbeda dan pada lingkungan hidup yang berbeda pula, dapat dihasilkan pola perkembangan yang sama atau hampir sama.

3. Lingkungan hidup yang sama bisa menimbulkan perbedaan – perbedaan ciri kepribadian pada anak – anak yang berlainan latar belakang keturunannya.

4. Lingkungan hidup yang tidak sama bisa menimbulkan persamaan dalam ciri – ciri kepribadian, meskipun latar belakang keturunan tidak sama.

Pustaka
Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Oleh Prof. DR. Singgih D Gunarsa dan Dra Yulia Singgih D Gunarsa, BPK.

MASA BAYI MEMPENGARUHI KEPRIBADIAN SESEORANG


Bertitik tolak dari pentingnya masa anak – anak sebagai masa bertumbuh kembangnya segenap aspek dan fungsi yang ada dalam diri seseorang, diantaranya perkembangan anak sejak masa pralahir, masa bayi dan masa pra sekolah serta masa anak sekolah (S.D). Perkembangan mana meliputi perkembangan dalam aspek motorik, mental, emosi dan sosial.

Berikut adalah perkembangan masa bayi yang mempengaruhi perkembangan seseorang. Masa ini banyak disebut – sebut sebagai berlangsung dari saat bayi lahir sampai berumur 2 tahun. Untuk masa ini adalah lebih penting mengetahui bagaimana proses bayi itu lahir dari pada kapan atau jam berapa bayi itu lahir karena dengan mengetahui proses kelahiran tersebut dapat diketahui sedikit banyak tentang status perkembangan anak ini untuk dapat menentukan tindak lanjut.

Misalnya
a. Apakah bayi lahir dengan bantuan alat – alat (seperti forceps, vacum dan lain – lain),
b. Apakah bayi langsung menangis, adakah gejala – gejala tertentu seperti bayi berwarna kuning, gerakan anggota badan bayi tertentu dan seterusnya.

Proses kelahiran merupakan pengalaman pertama seseorang dihadapkan pada masalah penyesuaian diri, yang meliputi penyesuaian diri terhadap suhu atau penguapan, terhadap pernafasan, terhadap makanan, sirkulasi darah dan terhadap pencernaan dan proses pengosongan (buang air kecil dan besar).

Sekalipun bayi – bayi baru lahir ini nampak lemah dan seakan – akan pasif saja karena sebagian besar dari waktu dihabiskan untuk tidur, beberapa penelitian membuktikan bahwa bayi – bayi mungil ini sebenarnya sudah memiliki sejumlah kesanggupan untuk belajar melakukan pilihan atau kesanggupan membeda – bedakan.

Di samping itu beberapa ciri di bawah ini merupakan manifestasi dari adanya proses perkembangan pada bayi :

1. Adanya perkembangan fisik nampak dari makin bertambahnya ukuran panjang dan berat badan bayi.

2. Perkembangan motorik nampak dari adanya respon bayi terhadap rangsang berupa gerakan seluruh tubuh dan refleks – refleks. Refleks ini perlu ada antara lain digunakan untuk perlindungan, (misalnya refleks Moro, gabinski), untuk mencari sumber makanan, (misalnya refleks menghisap dan memutar) dan untuk mulai mengamati dunia, (misalnya adanya “orienting reflex”).

Ketrampilan motorik terjadi secara bertahap mulai dari mengangkat kepala, dada, telungkup, merangkak, duduk, berdiri, berjalan dan seterusnya (pada bayi biasanya dijumpai variasi di mana tidak semua bayi mengikuti urutan tersebut secara tepat sama).

3. Perkembangan berpikir (kognitif) pada bayi ditandai oleh persyaratan rasa ingin tahu. Dari sudut teori kognitif dari
J.Piaget dikatakan bahwa bayi berada pada tahap sensori – motor. Melalui panca indera dan organ – organ tubuh lainnya ia berusaha “mengerti” dunia luar. (Mula – mula bayi menjelajahi lingkungan dengan mata, kemudian dengan mulut, gigi, tangan dan
jari).

Tidak jarang terlihat bayi memasukkan jari – jari tangan dan benda lain ke dalam mulut, menggigit, menghisap dan melepaskannya kembali. Dengan kemampuan menjangkau dan menggapai benda yang menjadi obyek rasa ingin tahunya ia mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru (dengan cara memainkan, menggenggam, menjatuhkan, melempar dan sebagainya).

Melalui bermain dengan alat permainan bayi melatih koordinasi visual motorik dan kecakapan berpikir. Nampak bayi senang memasukkan benda – benda kecil ke dalam lubang – lubang, mengorek – ngoreknya dan mengeluarkannya. Ia senang menarik – narik mainan yang tergantung – gantung atau yang mengeluarkan bunyi – bunyi tertentu.

Ia berusaha mengikuti ke mana “hilangnya” suatu benda yang tidak lagi dapat dilihatnya. Demikianlah perbuatan itu dilakukan berulang – ulang tanpa bayi bosan. Dan melalui pengalaman sensori – motor inilah bayi belajar berpikir.

4. Pada masa ini pula terjadi permulaan dari perkembangan bicara (bicara sebagai aspek penting bagi komunikasi dan alat berpikir). Masa bayi dikatakan juga sebagai fase pra – bicara di mana ada 4 tahap yang akan dilalui, yakni :

a. pra mengoceh (berupa tangisan dan bunyi bahasa tertentu)
b. mengoceh (sekitar 6 – 12 bulan)
c. kalimat satu kata (12 – 15 bulan)
d. kalimat dua kata (terjadi bila anak telah memiliki perbendaharaan kata sebanyak ± 50 kata).

5. Perkembangan emosi dan sosial : mula – mula emosi tenang atau senang dan terangsang (excited) timbul sehubungan dengan rangsangan fisik (misalnya bayi kenyang dan merasa nyaman nampak tubuh mengendor, tidur nyenyak, berceloteh, dan tertawa).

Pada kira – kira bulan ke 3 emosi senang dan tidak senang muncul karena rangsang psikis (misalnya bayi tersenyum kalau melihat wajah manusia). Pada bulan – bulan selanjutnya variasi emosi muncul (misalnya emosi takut, marah, kecewa, benci dan sebagainya).

Dengan memperlihatkan suatu respons emosional tertentu, bayi memperoleh reaksi balasan dan orang lain, dan hadirnya orang lain ini merupakan faktor yang sangat penting. Masa bayi dipandang sebagai fase di mana bayi pertama kali menjalin keterikatan dirinya dengan orang lain.

Bila kebutuhan keterikatan ini terpenuhi, akan terpupuk rasa aman dan rasa percaya. Kedua hal ini merupakan dasar penting bagi perkembangan emosi dan sosial seseorang.

Setelah umur 18 bulan, di mana ia telah berhasil menguasai bermacam kemampuan motorik dan mental, mulailah bayi menginjak tahap di mana ada kebutuhan untuk rasa otonomi, kebanggaan akan prestasi – prestasinya dan ingin melakukan sesuatu sendiri.

Pengalaman penting di masa ini adalah hubungan kerjasama dengan orang lebih dewasa, terutama orangtuanya. Bila orangtua tidak memahami kebutuhan ini, misalnya mereka kurang sabar atau terlalu membantu anak, timbullah ketegangan dan perasaan gagal pada diri anak, hal mana kemudian akan memupuk timbulnya rasa ragu dan malu (menurut teori perkembangan psikososial dari Erikson : pada saat ini terjadi masa krisis antara otonomi lawan ragu – ragu atau malu

Pustaka
Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Oleh Prof. DR. Singgih D Gunarsa dan Dra Yulia Singgih D Gunarsa, BPK.

PERAN IBU UNTUK ANAK


Dalam kehidupan sehari – hari dapat dilihat adanya hubungan yang terus – menerus antara ibu atau pengganti ibu dengan bayi. Dengan sendirinya hal ini menimbulkan hubungan timbal balik, yang secara berangsur – angsur akan menumbuhkan perasaan kasih sayang antara kedua pihak.

Sifat hubungan ibu dan anak akan berpengaruh terhadap perkembangan jiwa anak di kemudian hari. Hubungan yang kaku dan dingin, penuh rasa permusuhan, akan memupuk kelak sifat suka melawan pada anak. Hubungan yang demikian juga merupakan sebab terbentuknya individu – individu yang bertipe antisosial.

M. Rutter menyebutkan enam sifat yang dianggapnya merupakan kualitas perawatan pada bayi, yaitu :
1. Adanya hubungan cinta kasih
2. Adanya keterikatan
3. Adanya hubungan yang tidak terputus
4. Adanya rangsang untuk berinteraksi
5. Hubungan dengan seorang individu
6. Perawatan di rumah sendiri.

Hubungan yang ada antara anak dengan orang – orang dewasa dalam rumah tangga itu menyebabkan tumbuhnya keterikatan. Tetapi eratnya keterikatan itu bisa berbeda, sesuai dengan intensitas jalinan hubungan mereka dengan si anak. Rasa cemas yang sering dialami anak juga dapat meningkatkan intensitas keterikatan, karena anak dapat memperoleh perasaan aman berdekatan dengan ibu atau pengasuhnya.

Adakalanya keterikatan anak dengan pengasuh lebih besar daripada dengan ibu sendiri, tetapi hubungan ini terputus karena pengasuh tidak lagi bekerja. Dalam hal demikian anak masih bisa memperoleh kembali keterikatan dengan ibu, sehingga dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa keterikatan itu bukan saja tumbuh oleh karena intensitas pergaulan, tetapi juga karena pergaulan itu tidak terputus antara ibu dan anak.

Interaksi antara ibu atau pengasuh dengan anak dapat juga dipandang sebagai interaksi yang memberi rangsangan. Anak dirangsang untuk berkembang dan belajar banyak hal, terutama dalam memberikan respon – respon tingkah laku yang bervariasi.

Sistem kekeluargaan di Indonesia memang belum membuka kemungkinan yang luas untuk mendirikan lembaga penitipan bayi. Dalam rumah tangga umumnya masih terdapat orang dewasa lain selain ayah dan ibu. Jika kedua orangtua bekerja, masih ada orang dewasa yang dapat dipercaya untuk merawat dan mengasuh anaknya.

Jadi di sini terjadi perawatan yang diberikan lebih dari satu orang atau dalam terminologi disebut dengan “multiple mothering“. Kebanyakan perawatan dilakukan di tengah keluarga sendiri. Kepustakaan pun menyebutkan bahwa. “mothering” demikian dianggap lebih baik bagi perkembangan jiwa anak dari pada di lembaga – lembaga penitipan anak.

Erikson, menamakan tahap pertama dari kehidupan bayi itu sebagai pengalaman untuk memperoleh “dasar kepercayaan” atau “dasar ketidakpercayaan”. Dalam tahap ini bayi membutuhkan perasaan yang menyenangkan secara fisik dan sesedikit mungkin pengalaman rasa takut atau tidak pasti.

Jika bayi dapat mencapai hal ini maka ia akan berkembang dengan memperluas kepercayaannya pada perkembangan lebih lanjut. Sebaliknya rasa tidak berdaya timbul dari ketidakpuasan secara fisik dan pengalaman – pengalaman psikologis yang mengakibatkan ketakutan dalam menghadapi situasi – situasi yang akan datang.

Di sini Erikson menganggap dalam masa menyusu pada bayi, mulut sebagai penghubung bayi dengan dunia luar. Kalau Freud menekankan kepuasan oral, maka Erikson menekankan peranan orangtua dalam membina kepercayaan bayi terhadap dunia luarnya.

Dasar kepercayaan yang terbentuk pada masa ini membantu bayi sebagai individu untuk mengembangkan diri dan menerima pengalaman – pengalaman baru. Sementara itu dapat pula terjadi kemungkinan terbentuknya rasa tidak percaya.

Selama tahap oral, ibu atau orang yang merawatnya memainkan peranan terbesar dalam lingkungannya serta merupakan obyek utamanya. Ayah baru kemudian mendapat giliran untuk dijadikan obyek yang penting. Sentuhan dengan tubuh ibu dapat memberikan perasaan aman.

Kesenangan juga diperoleh dalam menikmati peluk ibu dan irama buaiannya. Hal tersebut menunjukkan adanya respon dari bayi terhadap perlakuan yang diterimanya, dan respon itu akan bermakna positif bagi perkembangan jiwanya bila perlakuan yang diterimanya dilandasi oleh perasaan cinta.

Sebaliknya bayi dapat juga merasakan ketiadaan cinta ibu atau orang yang merawatnya, karena itu responnya dengan sendirinya berlainan, hal inilah yang disebut oleh Erikson sebagai suatu dasar terbentuknya rasa tidak percaya.

Setelah bayi mengenal ibunya dan dapat membedakan dari orang dewasa lainnya, mulailah timbul “keterikatan” terhadap si ibu dan kadang – kadang menyebabkan bayi takut kepada orang lain yang tidak dikenalnya. Ibu yang merupakan obyek yang dikenal, memberikan rasa aman oleh kehadirannya. Orang dewasa lain yang tak dikenal menimbulkan perasaan tak tenteram yang merangsang rasa was – was pada bayi. Ia tahu bahwa ibu akan selalu memenuhi kebutuhan – kebutuhannya.

Keterikatan bayi pada ibunya menurut Freud dimulai dari situasi memberi makan, dan menurut Erikson bermula pada pergaulan yang terjadi terus – menerus antara ibu dan bayi, sedangkan cara ibu memberi makan bayi akan memperkuat keterikatannya.

Menurut P.H. Mussen dkk., pada ibu yang menyusui sendiri, situasi pemberian makanan akan menimbulkan kesenangan pula bagi si ibu di mana is mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk memeluk anak, merapatkan tubuhnya dan memberikan “support” pada bayi dan juga perangsangan pada alat indra bayi.

Sikap memeluk memungkinkan anak lebih aktif dalam memberikan respon gerakan terhadap si ibu. Tetapi situasi ini dapat pula terjadi pada ibu – ibu yang melakukan pemberian makan bayinya dengan botol susu yaitu jika anak digendong atau dipangku serta dirangsang pula untuk bicara ataupun bermain – main. Lain halnya bila ibu memberikan botol dan meninggalkan anak sendirian, cara pemberian makan yang secara psikologis kurang menumbuhkan rasa keterikatan pada bayi.

Ada dugaan bahwa bayi bisa mengembangkan suatu skema yang kaya atau suatu “mental image” mengenai ibunya, terutama wajahnya. “Mental image” ini berhasil dikembangkan karena adanya keterikatan antara ibu dan anak. Ibu itu menjadi tempat bayi menggantungkan keterikatannya, dengan akibat bayi cenderung memberikan reaksi takut atau menjauhkan diri dari orang asing yang berbeda dengan ibunya.

Gejala ini disebut “stranger anxiety” atau takut kepada orang yang asing baginya, yang biasanya hanya suatu keadaan sementara yang dialami anak pada usia antara 6 sampai 8 bulan. Atas dasar inilah timbulnya anggapan bahwa bayi itu sudah berhasil mengembangkan skema yang kaya atau “mental image” tentang wajah ibu atau pengasuhnya, yang menyebabkan ia dapat membedakan dari orang asing.

Jika anak sudah dibiasakan sering bertemu dengan orang – orang yang asing baginya maka reaksi tidak lagi berupa sikap ketakutan. Keterikatan anak terhadap ibunya belum sempurna sebelum anak itu mencapai usia dua tahun, oleh sebab itulah orangtua yang akan mengadopsi anak lebih disarankan oleh lembaga adopsi untuk sedini mungkin usia anak itu dan setidaknya di bawah usia dua tahun, oleh karena makin terikat hubungannya dengan si ibu, makin sulit menghadapi perubahan lingkungan.

Walaupun pengalaman usia yang singkat ini yaitu hanya dua tahun, tetapi merupakan dasar untuk persiapan perkembangan dirinya ke tingkat yang lebih lanjut, misalnya dalam perkembangan sosialisasinya dapat menimbulkan kemungkinan hambatan dan akan mempengaruhi hubungannya kelak terhadap antar manusia.

Pustaka
Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja, Oleh Singgih D. Gunarsa & Yulia

BIANG KERINGAT PADA BAYI


Biang Keringat
Kalau bicara biang keringat pada bayi, penyebab sebenarnya adalah tersumbatnya kelenjar keringat. Karena fungsi kelenjar keringat pada bayi belum sempurna seperti pada orang dewasa, makanya kita lebih sering menemukan biang keringat ini pada kulit bayi. Udara panas juga sering menimbulkan biang keringat di tubuh bayi. Biang keringat biasanya akan hilang dengan sendirinya terutama jika udara berubah menjadi sejuk dan bayi tidak terlalu banyak.

Tapi, jika udara panas sulit dihindari, Anda bisa melakukan saran berikut agar serangan biang keringat berkurang;
1. Gunakan pakaian bayi yang longgar dan mudah menyerap keringat, seperti katun.
2. Segera ganti baju bayi yang basah dengan baju kering.
3. Segera keringkan keringat bayi yang keluar.
4. Jangan taburi tubuh bayi dengan bedak, kecuali bedak cair khusus bayi.
5. Jika biang keringat menimbulkan bintik-bintik besar jangan sekali-kali memecahkannya karena bisa meradang atau infeksi.
6. Mandikan bayi dua kali sehari agar tubuhnya tetap segar.
7. Buat ruangan dengan ventilasi cukup agar udara segar dapat keluar-masuk.

Pustaka
Merawat Bayi Tanpa Baby Sitter Oleh Yunisa Priyono

KOLIK DAN KEMBUNG PADA BAYI


Kolik
Kolik adalah keadaan ketika bayi menangis berjam-jam secara berlebihan. Kolik lebih sering terjadi pada tiga bulan pertama usia bayi, dapat muncul di usia 2-3 minggu, bertambah parah pada usia enam minggu, lalu menghilang di usia empat bulan. Sebenarnya, kolik adalah sakit perut yang datang secara bergelombang (spasmodik). Hingga kini, ahli medis belum dpat memastikan penyebab sesugguhnya. Namun, diduga kolik disebabkan gangguan pencernaan, misalnya kejang otot di dinding usus, udara dalam usus, atau gangguan pencernaan lain. Kolik umumnya tidak berbahaya.

Hanya saja bayi kolik menjadi sukar ditenangkan. Jika kolik terus berlanjut, bisa jadi bayi mengalami kolik serius, yang salah satu penyebabnya adalah intususepsi atau terselipnya sebagian usus di atas yang lain. Kondisi ini menyebabkan pembuluh darah yang menyuplai darah ke usus menjadi kaku dan tersumbat. Jika tidak segera ditangani, dapat menyebabkan penyumbatan usus dan terdapatnya darah dalam feses.

Sebuah riset terbaru di Swedia mengungkapkan kemungkinan penyebab kolik lainnya adalah karena ibu mengonsumsi produk susu khusus selama hamil dan menyusui. Beberapa bayi kolik dapat ditenangkan dengan tekanan pada perut mereka ketika digendong.

Kembung
Perut kembung sering diderita bayi. Keadaan ini membuat bayi tidak nyaman, sering kali membuat bayi menolak mengisap ASI atau sebaliknya mengisap ASI berlebihan untuk mengurangi rasa tidak nyamannya. Sayangnya, semakin lama bayi melakukan itu, semakin parah kembungnya. Kembung terjadi karena terlalu banyak udara masuk ke dalam pencernaan bayi saat ia menyusui atau menangis, atau saat udara dingin. Ada pula kembung yang disebabkan gangguan ginjal atau pencernaan, tetapi ini jarang terjadi pada bayi.

Untuk mengetahui apakah perut bayi kembung, rabalah perutnya. Perut kembung sedikit keras dibandingkan perut normal. Selain itu, perut kembung sering mengeluarkan suara-suara seperti udara bergerak dan jika perut ditepuk akan terdengar suara “bung-bung”. Sebaiknya jangan terlalu sering menepuk-nepuk perut bayi kembung meskipun tepukan itu pelan. Kembung bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan kecuali jika terjadi terus-menerus dan membuat bayi menangis keras. Untuk menanganinya, sendawakan bayi agar udara di perutnya keluar, balurkan minyak telon di perut, punggung, juga kakinya. Selain itu, ganti baju bayi yang basah oleh keringat dengan baju kering. Gunakan gurita agar bayi lebih hangat, tetapi jangan mengikatnya terlalu keras.

Pustaka
Merawat Bayi Tanpa Baby Sitter Oleh Yunisa Priyono

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMBUAT KETUBAN PECAH


Ada beberapa faktor yang membuat ketuban pecah sebelum waktunya:
- Infeksi yang biasanya berawal dari kemaluan, lalu naik ke mulut rahim, leher rahim, dan dinding ketuban. Dinding ketuban paling bawah merupakan bagian yang paling rentan karena mendapat tekanan dari bobot janin, dan jugs yang pertama mendapat infeksi dari kemaluan.
- Gangguan pada leher rahim (cervix incompetence) sehingga dinding ketuban paling bawah mendapatkan tekanan yang semakin tinggi.
- Posisi plasenta di bawah. Posisi plasenta yang baik di sebelah atas agak ke kiri atau kanan sedikit.
- Tindakan invasif ke leher rahim, misalnya karena pemeriksaan medis atau upaya pengguguran.
- Gangguan terhadap jaringan kolagen penyangga dinding amnion, misalnya kebiasaan merokok dan minum alkohol.
- Tekanan di dalam rahim meningkat karena cairan ketuban berlebihan, kehamilan kembar, janin yang besar, atau adanya kelainan anatomis pada janin.

Pada kasus ketuban pecah dini, dokter akan meminta ibu hamil beristirahat total. Dokter juga akan memberikan obat untuk mencegah kontraksi sehingga janin selama mungkin dipertahankan dalam rahim sampai menjelang datangnya waktu persalinan atau masa aterm. Janin diusahakan bertahan sampai minimal 36 minggu kehamilan dan diharapkan janin sudah siap bila terpaksa harus dilahirkan. Kehamilan dengan ketuban pecah dini biasanya berujung kepada persalinan dengan bantuan atau operasi cesar.

Pustaka
Skia: Masa Kehamilan & Persalinan Oleh Iis Sinsin

PRMBARIAN RANGSANGAN YANG MEMPENGARUHI KECERDASAN ANAK


Berikut adalah beberapa pola pemberian perangsangan pada anak – anak.
1. Perangsangan yang diberikan terlalu dini
Kecemasan pada orangtua, harapan dan cita – cita pribadi yang tidak tercapai dan ingin dicapai melalui anak, penilaian – penilaian yang terlalu berbeda dengan keadaan obyektif anak, dan persaingan antar saudara, acapkali menjadi sebab timbulnya keinginan untuk cepat – cepat memperkembangkan anak, melebihi kerangka batas dari kemampuan sebenarnya dengan memberikan perangsangan yang terlalu dini.

Hal seperti ini lebih jelas terlihat dalam kaitannya dengan prestasi – prestasi yang dicapai anak baik di Kelompok Bermain ataupun di TK. Tiga puluh tahun yang lalu, A.L. Gesell dan H. Thompson sudah membuktikan melalui percobaannya terhadap anak kembar identik, bahwa latihan yang diberikan kepada seorang anak sebelum anak mencapai tahapan kematangan untuk bisa menerima suatu latihan tidak akan berhasil dan bahkan bisa menimbulkan kesulitan – kesulitan pada perkembangan aspek – aspek lain.

Kesulitan yang sering dihadapi baik oleh orangtua, guru atau pendidik – pendidik lain ialah mengetahui secara obyektif masa – masa yang tepat untuk memberikan latihan atau mengajarkan sesuatu, yang kadang – kadang tidak sama pada semua anak. Penyuluhan kepada orangtua dan pembinaan terhadap program – program kurikuler di Kelompok Bermain dan TK maupun SD seyogyanya perlu ditingkatkan.

Untungnya, perangsangan yang terlalu dini belum atau tidak melanda masyarakat banyak, karena hanya terdapat pada sekelompok kecil masyarakat, terutama yang tinggal di kota – kota besar.

Sehubungan dengan usaha – usaha mengajarkan sesuatu kepada anak yang belum mencapai suatu tahapan kematangan, saya ingin menanggapi sedikit mengenai pengajaran Matematika Modern. Dewasa ini sudah bukan hal yang mengejutkan lagi kalau seorang anak didik di SD memperoleh angka yang tidak tetap, bahkan cenderung lebih sering buruk ketimbang baik untuk mata pelajaran Matematika.

Memang harus diakui, bahwa mata pelajaran Matematika merupakan mata pelajaran yang sukar karena sifatnya yang membutuhkan kemampuan abstraksi dan kemampuan penalaran secukupnya agar bisa mengikutinya.

Dengan demikian keberhasilan seorang anak tergantung dari kemampuan anak itu sendiri, di samping kecakapan dalam cara dan metode guru yang mengajarnya dan tingkatan atau derajat kesukaran dari bahan yang diajarkan. Khusus mengenai bahan yang diajarkan harus disesuaikan dengan masa – masa perkembangan anak dan oleh karena itu diperlukan penelitian yang mendalam.

Menurut L Kohlberg yang dikutip oleh W.C. Crain (1980), kesulitan dalam mengajarkan Matematika Modern disebabkan usaha – usahanya untuk mengajar Matematika kepada anak – anak yang masih berada pada masa kongkrit – operasional atau lebih rendah (pentahapan dari J. Piaget), sedangkan bahan yang diajarkan sebenarnya lebih sesuai diberikan kepada anak pada masa formal – operasional, jadi pada tahapan perkembangan yang lebih tinggi.

2. Perangsangan yang diberikan terlalu lambat
Pola sikap lain dalam mengasuh, mendidik dan memperkembangkan anak banyak terlihat pada masyarakat di pedesaan dan di pedalaman. Padahal jumlah ini cukup besar. Orangtua cenderung pasif dan lebih banyak membiarkan anak tumbuh dan berkembang sendiri dan baru memasukkan anak setelah dianggap sudah cukup besar dan acapkali justru sedikit terlambat dari masa kritis yang telah dicapai oleh anak.

Pola sikap yang demikian ini menjadi ciri pada teori perkembangan yang dikemukakan oleh J. Langer (1969) yang disebut dengan Teori Lampu – Organik, suatu teori yang memandang “manusia berkembang menjadi apa yang ia bentuk sendiri dengan aktivitas – aktivitasnya sendiri”.

Sebagai pribadi yang aktif yang ikut menentukan arah perkembangannya, tidak berarti dilepaskan sama sekali dari perangsangan – perangsangan yang diatur dan disistimatiskan oleh orang lain, oleh orangtua atau pendidik.

Orangtua acapkali terlambat dalam memperkembangkan ciri – ciri kepribadian anak yang meliputi aspek kognitif dan aspek moral. Orangtua sering lupa bahwa hubungan yang erat dengan anak, berbicara dengan anak, memberi tugas – tugas praktis kepada anak sebenarnya merupakan kegiatan instruktif di samping menjadi obyek imitatif untuk memacu seluruh perkembangan anak.

Sikap menanti dan menunjukkan bantuan hanya kalau diperlukan sebenarnya merupakan sikap yang terlalu optimistis dan bisa menimbulkan banyak masalah. Salah satu gejala yang sering terlihat adalah timbulnya kenakalan – kenakalan pada masa remaja disebabkan oleh merenggangnya hubungan antara orangtua dengan anak – anak pra remaja.

Dengan kata lain orangtua kurang aktif dalam mempersiapkan anak pra remaja memasuki masa remaja. Sedangkan masa remaja adalah masa di mana muncul banyak masalah yang harus dihadapi olch remaja.

Masih dalam hubungan dengan perangsangan yang diberikan terlambat ini, mengenai perlunya kesesuaian antara masa – masa kritis pada anak – anak TK maupun SD dengan pelajaran – pelajaran yang diberikan oleh pihak sekolah. Menerima pelajaran – pelajaran terlalu mudah atau harus menanti memperoleh pelajaran lanjutan karena umurnya belum memenuhi syarat, padahal anak sudah siap, jelas akan merugikan perkembangan anak.

Sekalipun kenyataannya ada perbedaan individual antara seorang dengan anak lain, tetapi patokan yang berlaku umum memang perlu ditentukan. Namun patokan ini hendaknya disertai keluwesan dengan mengingat banyaknya faktor sosial dan kebudayaan yang mempengaruhi cepat lambatnya tahapan – tahapan perkembangan dicapai.

Secara khusus hal ini dirasakan di kota – kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya di mana sebagian dari anak – anak di TK golongan C sebenarnya sudah mampu mengikuti pelajaran di kelas 1 SD, sehingga sering disebut bahwa TK golongan C terutama banyak di kota – kota besar sebenarnya adalah kelas 1 SD tersamar, karena acapkali guru terpaksa terbawa untuk menyesuaikan dengan masa yang sudah siap dan kebutuhan untuk lebih banyak mengetahui pada anak – anak.

3. Perangsangan yang diberikan secara tidak terpadu
Kelompok ini sering melupakan bahwa memperkembangkan anak tidak berarti hanya memperkembangkan kemampuan atau aspek intelek agar mencapai prestasi yang baik, atau aspek – aspek lain seperti bakat khusus, melainkan sebenarnya keseluruhan dari aspek – aspek kepribadiannya.

Terlalu menekankan pada satu atau dua aspek kepribadian yang berkembang atau diperkembangkan, menyebabkan hambatan pada aspek – aspek lain, sehingga secara keseluruhan gambaran kepribadiannya akan menjadi tidak seimbang dan tidak harmonis.

Perimbangan waktu untuk belajar, untuk membuat pekerjaan rumah yang berkaitan dengan latihan pada segi kognitif dengan waktu untuk berbincang – bincang dengan orangtua dalam rangka menanamkan segi – segi moralnya, harus ada dan dikoordinasikan dengan baik.

Namun peranan dan tugas ibu untuk mengasuh, merawat dan mendidik anak seringkali diserahkan kepada ibu – pengganti, karena ibu mempunyai banyak tugas lain, kesibukan lain sesuai dengan status sosialnya.

Pada hakekatnya, kesibukan sosial atau kesibukan karena bekerja, tidak selalu secara mutlak menimbulkan akibat yang kurang baik untuk perkembangan anak, sebab yang lebih penting adalah corak dan kualitas hubungan antara anak dan ibunya atau orangtuanya.

Dengan demikian mudah dipahami terdapatnya ibu – ibu yang punya banyak waktu, tetapi yang hanya hadir secara fisik dalam kehidupan psikis anak, karena ia merasa sudah menyerahkan tugas dan pekerjaan mengasuh anak kepada orang lain.

Baru bilamana timbul gangguan – gangguan dalam proses perkembangan anak, misalnya anak menjadi agresif, si ibu turun tangan untuk memarahi anak. Keadaan seperti ini terjadi pula pada tokoh ayah, yang beranggapan bahwa tugas membesarkan dan mendidik anak telah dilimpahkan kepada istrinya karena ia mempunyai tugas lain yang lebih penting yang harus dilakukan untuk kehidupan, kesejahteraan dan kemajuan keluarganya.

Lagi bilamana anak memperlihatkan kelakuan yang menyimpang, si ayah baru turun tangan. Kehadiran ayah dalam kehidupan psikis anak, hanya sebagai momok dan tokoh penguasa tanpa kompromi, karena dalam kenyataannya tidak sering berdialog. Contoh – contoh ini memperlihatkan adanya rangsang – rangsang yang sampai pada anak secara tidak terpadu dan karena itu mengakibatkan terbentuknya struktur dan fungsi kepribadian yang tidak harmonis.

Krisis identitas sering terjadi pada anak karena tokoh model yang bisa ditiru oleh anak menjadi kabur, dengan akibat anak mencari model di luar rumah yang seringkali malah menyesatkan.

Pustaka
Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja, Oleh Singgih D. Gunarsa & Yulia.

Sabtu, 04 Juni 2011

MAKNA KELUARGA SAKINAH


Makna keluarga sakinah adalah keluarga yang bahagia. Keluarga sakinah satu ungkapan untuk menyebut sebuah keluarga yang fungsional dalam mengantar orang pada cita-cita dan tujuan membangun keluarga. Dalam bahasa Arab disebut dengan usrah sa`idah, keluarga bahagia. Penggunaan nama sakinah pasti diambil dari al Quran surat 30:21, litaskunu ilaiha, yang artinya bahwa Allah menciptakan perjodohan bagi manusia agar yang satu merasa tenteram terhadap yang lain. Dalam bahasa Arab, kata sakinah di dalamnya terkandung arti tenang, terhormat, aman, penuh kasih sayang, mantap dan memperoleh pembelaan. Pengertian ini pula yang dipakai dalam ayat-ayat al Quran dan hadis dalam kontek kehidupan manusia. Jadi keluarga sakinah adalah kondisi yang sangat ideal dalam kehidupan keluarga, dan yang ideal biasanya jarang terjadi, oleh karena itu ia tidak terjadi mendadak, tetapi ditopang oleh pilar-pilar yang kokoh, yang memerlukan perjuangan serta butuh waktu serta pengorbanan terlebih dahulu. Ada empat hal memahami makna keluarga sakinah diantaranya adalah.

Pertama, bahwa nikah atau hidup berumah tangga itu merupakan sunnah Rasul bagi yang sudah mampu. Dalam kehidupan berumah tangga terkandung banyak sekali keutamaan yang bernilai ibadah, menyangkut aktualisasi diri sebagai suami/isteri, sebagai ayah/ibu dan sebagainya. Bagi yang belum mampu disuruh bersabar dan berpuasa, tetapi jika dorongan nikah sudah tidak terkendali padahal ekonomi belum siap, sementara ia takut terjerumus pada perzinaan, maka agama menyuruh agar ia menikah saja, Insya Allah rizki akan datang kepada orang yang memiliki semangat menghindari dosa, entah dari mana datangnya (min haitsu la yahtasib). Nabi bersabda:

‘Wahai pemuda, barang siapa diantara kalian sudah mampu untuk menikah nikahlah, karena nikah itu dapat mengendalikan mata (yang jalang) dan memelihara kesucian kehormatan (dari berzina), dan barang siapa yang belum siap, hendaknya ia berpuasa, karena puasa bisa menjadi obat (dari dorongan nafsu). (H.R. Bukhari Muslim)

Kedua, Bahwa tingkatan ekonomi keluarga itu berhubungan dengan kesungguhan berusaha, kemampuan mengelola (manajemen) dan berkah dari Allah. Ada keluarga yang ekonominya pas-pasan tetapi hidupnya bahagia dan anak-anaknya bisa sekolah sampai ke jenjang tinggi, sementara ada keluarga yang serba berkecukupan materi tetapi suasananya gersang dan banyak urusan keluarga dan pendidikan anak terbengkalai. Berkah artinya terkumpulnya kebaikan ilahiyyah pada seseorang/keluarga/masyarakat seperti terkumpulnya air di dalam kolam. Secara sosiologis, berkah artinya terdayagunanya nikmat Allah secara optimal. Berkah dalam hidup tidak datang dengan sendirinya tetapi harus diupayakan. Firman Allah.

‘Sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, niscaya Kami akanmelimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan dari bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami akan sisksa mereka disebabkan oleh perbuatan mereka./(Surat al A’raf, 96)

Ketiga, Suami isteri itu bagaikan pakaian dan pemakainya. Antara keduanya harus ada kesesuaian ukuran, keseuaian mode, asesoris dan pemeliharaan kebersihan. Layaknya pakaian, masing-masing suami dan isteri harus bisa menjalankan fungsinya sebagai (a) penutup aurat (sesuatu yang memalukan) dari pandangan orang lain, (b) pelindung dari panas dinginnya kehidupan, dan (c) kebanggan dan keindahan bagi pasangannya. Dalam keadaan tertentu pakaian mungkin bisa diperkecil, dilonggarkan, ditambah asesoris dan sebagainya. Mengatasi perbedaan selera, kecenderungan dan hidup antara suami isteri, diperlukan pengorbanan kedua belah pihak. Masing-masing harus bertanya , Apa yang dapat saya berikan, bukan apa yang saya mau.

‘Mereka (isteri-isterimu) adalah (ibarat) pakaian kalian, dan kalian adalah (ibarat) pakaian mereka. (Surat al Baqarah 187).

‘Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik terhadap isterinya, dan aku (Nabi) adalah orang yang paling baik terhadap isteri. (H.R. Turmuzi dari Aisyah).

Keempat, Bahwa cinta dan kasih sayang (mawaddah dan rahmah) merupakan sendi dan perekat rumah tangga yang sangat penting. Cinta adalah sesuatu yang suci, anugerah Allah dan sering tidak rasional. Cinta dipenuhi nuansa memaklumi dan memaafkan. Kesabaran, kesetiaan, pengertian, pemberian dan pengorbanan akan mendatangkan/menyuburkan cinta, sementara penyelewengan, egoisme, kikir dan kekasaran akan menghilangkan rasa cinta. Hukama berkata, ‘Tanda-tanda cinta sejati ialah (1) engkau lebih suka berbicara dengan dia (yang kau cintai) dibanding berbicara dengan orang lain, (2) engkau lebih suka duduk berduaan dengan dia dibanding dengan orang lain, dan (3) engkau lebih suka mengikuti kemauan dia dibanding kemauan orang lain/diri sendiri).

‘Tidak bisa memuliakan wanita kecuali lelaki yang mulia, dan tidak sanggup menghinakan wanita kecuali lelaki yang tercela.’

Sabtu, 16 April 2011

THE BEST MOTHER


• Ibu membalas surat-surat anda setiap kali dan tetap menyurati anda walaupun anda tidak membalas.
• Ibu tahu suatu hari ia harus melepaskan anda yaitu pada saat anda lebih dekat dengannya pada saat itulah ibu menjadi seorang sahabat.
• Ibu bisa menerima kritik asal bukan tentang anda.
• Ibu akan memilih makanan dengan harga paling murah di daftar menu kalau anda yang mentraktir.
• Ibu mendengarkan dengan matanya, ibu mendengarkan dengan hatinya begitulah caranya mendengar apayang tidak bisa terucap dengan kata-kata.

Hal-Hal Yang Menarik Dari Seorang Ayah:


• Ayah bisa membuat anda percaya diri karena ia percaya.
• Ayah memberikan tempat duduk terbaik dengan mengangkat anda dibahunya ketika anda ingin menonton pawai yang sedang lewat.
• Ayah tahu bagaimana mendorong ayunan cukup tinggi untuk membuat anda senang tetapi tidak takut.
• Ayah membiarkan anda menang dalam permainan ketika anda masih kecil, tetapi tak ingin anda membiarkannya menang bila anda sudah besar.
• Ayah akan mengatakan betapa rindunya ia pada anda ketika anda pergi, tetapi nyaris tanpa kata -kata.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites