Rabu, 15 Juni 2011

PSIKOLOGI PADA ANAK


Mengasuh, membesarkan dan mendidik anak merupakan satu tugas mulia yang tidak lepas dari berbagai halangan dan tantangan. Telah banyak usaha yang dilakukan orangtua maupun pendidik untuk mencari dan membekali diri dengan pengetahuan – pengetahuan yang berkaitan dengan perkembangan anak. Lebih – lebih bila pada suatu saat dihadapkan pada masalah yang menimpa diri anak – anak ini, ada kecenderungan untuk mempertanyakan hal – hal sebagai berikut :

Apa yang sebenarnya terjadi pada anak ini?
Mengapa ia bisa berbuat demikian
Mengapa masalah ini hanya menimpa si bungsu atau si sulung?
Siapa yang bersalah?
Dan sebagainya.

Dengan mengenal Psikologi Perkembangan, khususnya tentang perkembangan anak, diharapkan dapat memberi jawab atau setidak – tidaknya petunjuk atas pertanyaan – pertanyaan tersebut di atas.

Di dalam psikologi perkembangan banyak dibicarakan bahwa dasar kepribadian seseorang terbentuk pada masa anak – anak. Proses – proses perkembangan yang terjadi dalam diri seorang anak ditambah dengan apa yang dialami dan diterima selama masa anak – anaknya secara sedikit demi sedikit memungkinkan ia tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa.

Adalah harapan dan cita – cita para orangtua untuk dapat memperkembangkan anak semaksimal mungkin agar anak tersebut mampu dan berhasil dalam memenuhi tugas – tugas perkembangan yang berlaku umum untuk setiap umur atau fase perkembangan yang akan atau sedang dilalui seorang anak.

Orangtua akan senang misalnya mempunyai anak umur 2 tahun sudah lincah berjalan, berlari serta berbicara, pada umur 4 tahun sudah berhenti mengompol, pada umur 11 – 13 tahun dapat melampaui jenjang pendidikan SD dengan tanpa kesulitan dan mereka telah mengetahui peran jenis kelaminnya, pada masa remaja dapat menerapkan nilai – nilai moral dengan baik, demikian untuk selanjutnya secara bertahap mereka mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.

Sebelum perkembangan anak ini dijelaskan lebih lanjut, ada baiknya dikemukakan dahulu beberapa prinsip perkembangan yang mendasari perkembangan setiap anak.

Beberapa prinsip perkembangan
1. Perkembangan tidak terbatas dalam arti tumbuh menjadi besar tetapi juga mencakup rangkaian perubahan yang bersifat progresif, teratur, koheren dan berkesinambungan. Jadi antara satu tahap perkembangan dengan tahap perkembangan berikutnya tidak terlepas, berdiri sendirin- sendiri.

2. Perkembangan dimulai dari respons – respons yang sifatnya umum menuju ke yang khusus. Contohnya, seorang bayi mula – mula akan bereaksi tersenyum bila melihat setiap wajah manusia. Dengan bertambahnya usia bayi, is mulai bisa membedakan wajah – wajah tertentu.

3. Manusia merupakan totalitas (kesatuan), sehingga akan ditemui kaitan erat antara perkembangan aspek fisik,motorik, mental, emosi dan sosial. Perhatian yang berlebihan atas satu segi akan mempengaruhi segi lain. Contohnya, orangtua yang terlalu mengutamakan segi mental (misalnya kecerdasan) menyebabkan anak dibesarkan dalam suasana yang penuh dengan aturan – aturan, tuntutan – tuntutan atau kegiatan – kegiatan yang semuanya ditujukan untuk menunjang keberhasilan di bidang intelektual.

Anak mungkin akan berhasil menjadi “bintang pelajar“, tetapi apakah pernah ditelaah bagaimana kondisi fisiknya, bagaimana kehidupan emosi dan sosialnya? Apakah anak ini lincah, ceria dan bahagia seperti anak – anak lain seusianya?

4. Setiap orang akan mengalami tahapan perkembangan yang berlangsung secara berantai. Meskipun tidak ada garis pemisah yang jelas antara satu fase dengan fase Iainnya, tahapan perkembangan ini sifatnya universal. Dalam perkembangan bicara misalnya, sebelum seorang anak fasih berkata – kata terlebih dahulu ia akan mengoceh.

5. Setiap fase perkembangan memiliki ciri dan sifat yang khas sehingga ada tingkah laku yang dianggap sebagai tingkah laku buruk atau kurang sesuai yang sebenarnya merupakan tingkah laku yang masih wajar untuk fase tertentu itu.

Setelah seorang anak melewati masa bayi di mana ia mula – mula tidak berdaya, dengan dikuasai dan diperolehnya kemampuan baru menyebabkan bayi ini menjadi lebih ingin mandiri. la tidak lagi mau digendong dan diberi dot seperti pada waktu usia dini tetapi berusaha lari ke sana ke mari dan menolak makanan yang tidak disukainya.

Para orangtua sering mengomentari perubahan kelakuan ini sebagai “dulu ia manis, patuh, sekarang jadi bandel dan keras kepala”. Para ahli mengemukakan bahwa antara masa tenang atau equilibrium (di mana anak mudah diatur, penurut) dan masa disequilibrium atau tidak tenang (di mana anak sukar diatur, mudah tersinggung, gelisah) pada seorang anak akan terjadi silih berganti sebagaimana slur dari sebuah spiral yang bergerak ke atas. Namun justru adanya perubahan – perubahan itulah merupakan ciri terjadinya perkembangan.

6. Karena pola perkembangan mengikuti pola yang pasti, maka perkembangan seseorang dapat diperkirakan. Seorang anak yang dilahirkan dengan faktor bawaan yang “kurang” dari anak lain, dalam perkembangan selanjutnya akan menampakkan suatu kecenderungan perkembangan yang relatif lebih lambat dari anak lain seusianya.

7. Perkembangan terjadi karena faktor kematangan dan belajar dan perkembangan dipengaruhi oleh faktor – faktor dalam (bawaan) dan faktor luar (lingkungan, pengalaman, pengasuhan). Jadi sekalipun semua orang mengikuti pola perkembangan yang kurang lebih sama, kecepatan perkembangan pada sesuatu aspek pada tiap orang berbeda – beda misalnya anak – anak dengan umur yang sama tidak selalu mencapai titik atau tingkat perkembangan fisik, mental, sosial, emosi yang sama.

Variasi dalam perkembangan ini banyak hubungannya dengan faktor kematangan, belajar atau pengalaman, bawaan dan faktor lingkungan.

8. Setiap individu itu berbeda, dengan lain perkataan setiap orang itu khas, tidak akan ada dua orang yang tepat sama meskipun berasal dari orangtua yang sama.

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites