Rabu, 15 Juni 2011

DISAPIH MENYEBABKAN TRAUMA PADA BAYI


Menyapih yang diartikan sebagai menghentikan kegiatan mengisap susu ibu, oleh beberapa ahli dianggap mempunyai arti yang sangat penting karena mempunyai hubungan yang erat dengan masalah kepuasan oral. O. Fenichel menyatakan bahwa menyapih itu dapat menimbulkan perasaan kehilangan kepuasan oral pada anak yang bila dilakukan pada saat terlalu dini akan menimbulkan kerinduan untuk dapat terus dipenuhinya kepuasan oral itu, sehingga kekecewaan yang dialami pada saat ini mempunyai efek di kemudian hari, yaitu terbentuknya karakter yang bersifat pesimis atau sadis.

Sebaliknya masa menyapih yang terlalu lama, jadi dipenuhinya kepuasan yang lama dari dorongan oralnya, akan mempengaruhi terbentuknya aspek kepribadian yang bersifat optimis.
Proses menyapih juga merupakan keharusan – keharusan untuk dipelajari anak, dan terdiri dari 3 proses.

Pertama, dihentikannya kebiasaan mengisap.
Kedua, digantikannya makanan cair dengan makanan padat atau lunak, dan terakhir berarti berkurangnya kontak anak dengan ibu.
Menurut O.S. English dan G.H.J. Pearson, setiap anak mengalami banyak kekecewaan yang tidak dapat dihindarinya dalam hubungan dengan makanan, misalnya ia masih ingin meneruskan cara mengisap daripada harus belajar dengan cara mengunyah. Tetapi meskipun demikian secara bertahap ia juga akan belajar mengatasi kekecewaan tersebut dan akhirnya dapat pula belajar menyukai cara yang baru.

Setiap cara yang baru dari tingkah lakunya ini merupakan suatu langkah kemajuan dalam perkembangannya, malahan tingkahlaku yang baru ini dapat menimbulkan rasa yang lebih menyenangkan.
Pengalaman – pengalaman yang diperoleh dalam setiap perkembangan memang tidak selalu memberikan perasaan puas, bahkan seringkali tidak menyenangkan si anak dan menimbulkan, perasaan cemas.

Perasaan ini membuatnya gelisah dan mencari jalan untuk memperoleh kepuasan bagi kebutuhan – kebutuhan dalam dirinya. Perkembangan itu juga dapat digambarkan sebagai tahap – tahap di mana anak dilatih menghadapi kekecewaan – kekecewaan dan penderitaan yang berukuran kecil, yang secara berangsur – angsur menjadi bertambah besar tanpa disadarinya.

Berdasarkan pola – pola respon yang sudah dipelajari, anak memberikan reaksinya terhadap frustrasi yang dialaminya. Reaksi itu dapat dilihat dalam tiga jenis atau kombinasi daripadanya, yaitu : pertama, anak akan melawan penyebab perasaan yang tidak menyenangkan. Kedua, anak akan menghindari, dan jika ia tidak mampu memberi reaksi, maka, ketiga, ia akan diam tidak bergerak.

Reaksi terhadap perasaan yang tidak menyenangkannya ini dapat menghasilkan tingkah laku yang berbeda dari yang normal, sehingga timbul suatu kelainan tingkahlaku atau “problem behavior“.
Pengalaman menyapih diartikan juga oleh Rank sebagai pengalaman traumatis yang kedua, sedangkan “pengalaman dilahirkan”, dihayati sebagai trauma yang pertama.

Hal ini karena pengalaman dilahirkan ke dunia menyebabkan kejutan yang sangat dalam pengaruhnya terhadap organisma yang tidak berdaya itu, karena bukan hanya menyangkut terlepasnya organisma itu secara fisik dari kandungan si ibu, tetapi juga menimbulkan gangguan-gangguan dan perubahan – perubahan fisiologis. Pengalaman yang pedih ini membangkitkan perasaan cemas atau “anxiety” yang paling dasar dan yang dirasakan untuk pertama kalinya oleh manusia. Oleh sebab itu pengalaman menyapih disebut juga sebagai pencerminan trauma kedua.

Menurut Rank, situasi di dalam kandungan itu demikian menyenangkannya sehingga manusia merindukan kehidupan seperti di dalam kandungan dan dengan berbagai macam cara berusaha untuk memulihkan kenikmatan itu. Ia percaya bahwa setiap manusia membutuhkan seluruh masa kanak – kanaknya untuk mengatasi trauma kelahiran itu dengan cara yang masih disebut wajar, sedangkan orang – orang yang tergolong “neurotik” ialah orang – orang yang tak berhasil melaksanakan tugas ini.

Rasa takut yang pertama ini, yaitu trauma kelahiran akan beralih pada rasa takut yang lain. Jadi setiap rasa takut yang dipunyai pada masa kanak – kanak merupakan penyaluran dari rasa takut yang asli dan yang tak terhapuskan dalam dirinya. Sehingga dengan cara ini maka rasa takut pada trauma kelahiran itu secara berangsur-angsur dapat dihilangkan, atau setidak – tidaknya diringankan.

Rasa takut menurut Freud, merupakan tanda – tanda beberapa keinginan yang bersifat naluriah dan menuntut pemuasannya. Misalnya : keinginan untuk mengisap. Keinginan ini merupakan ekspresi hasrat seksual, untuk memperoleh kesenangan fisik dengan jalan menggunakan mulut. Dengan berkembangnya si anak, kebiasaan mengisap harus dihilangkan dan bentuk tingkah laku lain dikembangkan supaya dapat memuaskan kebutuhan – kebutuhan yang sesuai dengan tingkat usianya.

Dorongan – dorongan biologisnya dan tekanan dari lingkungan pergaulannya memaksa supaya ia berusaha mengembangkan cara barn dalam memperoleh pemuasan kebutuhannya. Walaupun secara sadar ia merasa jijik terhadap pemuasan hasratnya dengan cara mengisap, tetapi selama ia belum menemukan cara yang memadai, ia akan mencari kepuasan dengan cara yang lama. Perasaan takutnya akan timbul karena dalam waktu yang lama ia belum juga berhasil atau bahkan gagal menemukan cara yang dituntut lingkungan dan perkembangannya. Pada usia kirakira tiga bulan bayi mulai memasukkan jari – jari ke dalam mulut bahkan ia mencoba memasukkan kepalan tangannya ke dalam mulut.

Sesudah tangannya bisa menggenggam, bayi sudah waktunya diberi mainan, tetapi bersamaan dengan itu karena kebiasaan atau kenikmatan mengisap jari – jari atau kepalanya maka semua permainan yang jatuh dalam genggamannya tentu akan dimasukkannya ke dalam mulut. Tangan digunakan untuk membawa benda ke dalam batas lantang pandangnya untuk diamati, tetapi untuk mengenali benda itu, yaitu membedakan antara benda yang dapat dimakan dan yang tidak, ia mempergunakan mulutnya.

Memang harus diakui bahwa bayi mendapat kepuasan dari mengisap pada tahap ini, jadi tidak mengherankan jika dalam bermain ia menggunakan pula cara mengisap. Dalam kenyataan, anak tidak hanya terikat pada kenikmatan mengisap, tetapi juga pada sentuhan yang menyenangkannya, misalnya : bayi yang segera berhenti menangis bila dipeluk atau dibelai.

Reaksi ini adalah karena sentuhan yang menyenangkan itu sudah menjadi kebiasaan. Kebiasaan memang merupakan sesuatu yang sukar dihilangkan, karena terbentuk melalui proses belajar atau dari proses “kondisioning”. Kebiasaan boleh dikatakan pula sebagai salah satu pola tingkahlaku yang sudah tertanam (“imprinted”). Pola – pola tingkahlaku, termasuk kebiasaan, sampai pada batas tertentu memang masih dapat dirombak dan bahkan digantikan dengan pola tingkah laku yang lain, tetapi kesulitannya adalah proses belajar kembali itu atau “re-learning” akan memerlukan waktu yang lama bahkan kadang – kadang lebih lama dibandingkan dengan proses belajarnya yang pertama kali.

Tidak mengherankan jika kebiasaan sentuhan yang menyenangkan atau “contact comfort” telah berubah fungsinya menjadi suatu kebutuhan psikologis pada usia dewasa yang juga menuntut pemuasannya, bahkan melebihi kebutuhan mengisap.
Menurut P. Leach, di negara – negara Timur, anak jarang merasakan situasi “physical aloneness” atau kesendirian sampai anak dapat berjalan dan atas kemauan sendiri menjauhkan dari sentuhan tubuh ibunya.

la menyimpulkan bahwa karena adanya sentuhan yang menyenangkan yang sangat luas kesempatannya, maka tidak memungkinkan anak membentuk kebiasaan mengisap yang berlebihan.
Jadi sesungguhnya kesulitan yang dihadapi dalam penyapihan lebih banyak berhubungan dengan proses belajar kembali atau “re-learning”, walaupun ada juga gangguangangguan emosional dalam penyapihan yang dipengaruhi oleh masalah kepuasan oral.

Dalam menentukan waktu yang tepat untuk melakukan penyapihan itu, dari observasi yang berbeda – beda menunjukkan banyak perbedaan pada kebudayaan yang berbeda – beda. Anak – anak di Amerika disapih dari botol ketika berusia 9 hingga 12 bulan dan hanya sebagian kecil pada usia 18 bulan. Dalam beberapa kebudayaan, menyapih diselesaikan dalam proses yang tenang, tetapi di tempat lain, misalnya di Okinawa, merupakan masa yang dtsebut “periode marah” bagi si anak.

Selama masa kanak – kanak, pemberian makan dan pemuasan kebutuhan akan ketergantungannya, terjalin dalam masa jalinan yang sangat erat, sehingga sukar dibedakan. Karena itu jika ibu mencoba untuk mengubah kebiasaan dalam cara memberi makan pada anaknya, maka perubahan itu akan dirasakan si anak sebagai gangguan yang sangat besar. Bukan saja si anak merasakannya sebagai gangguan terhadap caranya memperoleh makanan, tetapi juga dirasakan sebagai gangguan yang dapat merusak hubungan ketergantungannya dengan si ibu.

Keadaan semacam inilah yang dirasakan si anak pada waktu disapih. Kegiatan mengisap selama ini memberikan kepuasan padanya dan memperkuat tingkahlaku oralnya, yang juga dirasakannya sebagai pemuasan terhadap kebutuhan ketergantungannya. Pengurangan kegiatan oralnya dirasakan sebagai pengurangan terhadap pemuasan kebutuhan ketergantungannya.

Dalam masalah kepuasan oral ini, sejumlah penelitian dilakukan untuk menyelidiki hubungan antara macam cara pemberian makan dengan kepribadian yang timbul di kemudian hari.

1. A.R. Holway, menyelidiki hubungan antara pengalaman yang dini dalam cara makan dan tingkah laku pada usia permulaan sekolah, dan disimpulkannya bahwa kedewasaan emosional yang lebih besar ditemukan pada anak – anak yang memperoleh pemberian susu ibu.

2. Watson & Lindgren, berpendapat bahwa yang lebih penting adalah karakteristik perawatan si ibu, tidak tergantung apakah anak itu diberi susu ibu atau susu botol.

3. F. Goldman, menyatakan bahwa ada hubungan yang positif antara saat menyapih yang terlalu dini atau pemberian susu ibu dengan masa yang singkat dengan kepribadian yang bersifat “oral pesimism”.

4. Freeden, melakukan eksperimen mengenai kesukaran penyapihan dari botol susu ke cara minum dengan cangkir.

Ia mendapat kesan bahwa anak yang diberi minum dengan cangkir kecil kemungkinannya menjadi pengisap jari daripada anak yang minum dengan susu ibu atau susu botol, dan juga biasanya mereka mudah menyesuaikan diri terhadap pengalaman – pengalaman di masa kanak-kanak. Ia memperkirakan bahwa cara minum dengan cangkir sama sekali menghapus kemungkinan kekecewaan pada proses penyapihan, dan membenarkan pendapat bahwa kekecewaan pada masa kanak – kanak harus dijaga seminim mungkin.

Sehubungan dengan pendapat bahwa anak – anak membutuhkan pengalaman yang positif dalam pemenuhan pemuasannya, Freeden berpendapat kontak fisik atau kebutuhan dipeluk yang lebih dituntut bayi.
Akhirnya para ahli menyimpulkan bahwa kekuatan dorongan oral dan bukan jumlah kekecewaan dalam penyapihan yang menjadi sebab munculnya kebiasaan mengisap jempol.

Pustaka
Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja, Oleh Singgih D. Gunarsa & Yulia, BPK.

1 komentar:

bagaimana kalau bayi disapih dan dia sakit tidak mau makan dan minum susu formula, padahal sebelumnya dia mau makan dan minum susu formula pendamping ASI? bagaimana cara mengatsinya?

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites